BELIK, PEMALANG – Alam sedang menunjukkan kekuatannya yang tak terbendung. Pada Sabtu pagi, 23 Januari 2026, sebuah insiden mencekam terjadi di jalur utama yang menghubungkan Kabupaten Pemalang dan Kabupaten Purbalingga. Tepat pukul 09.30 WIB, sebuah pohon besar yang telah berdiri kokoh selama puluhan tahun di wilayah Belik, tumbang melintang di tengah jalan akibat hantaman angin kencang dan hujan lebat yang tak kunjung reda.
Kejadian ini bukan sekadar insiden lalu lintas biasa. Ini adalah puncak dari amukan cuaca ekstrem yang telah mengepung wilayah Jawa Tengah bagian barat selama tiga hari berturut-turut. Meski tidak ada korban jiwa, dampak emosional dan ekonomi yang dirasakan warga sangatlah mendalam. Jalur nadi perekonomian tersebut lumpuh total, menyisakan deretan kendaraan yang terjebak dalam kemacetan panjang yang memilukan.
Kronologi Kejadian: Detik-Detik Tumbangnya Sang Raksasa

Sejak tiga hari terakhir, langit di perbatasan Pemalang-Purbalingga seolah tak menyisakan celah bagi sinar matahari. Angin kencang bertiup dengan suara menderu yang menggetarkan kaca rumah warga. Hujan deras mengguyur tanpa jeda, membuat tanah di tebing-tebing jalanan mulai jenuh akan air.
Pada pukul 09.30 WIB, di tengah kepungan kabut dan rintik hujan yang tajam, sebuah pohon berukuran raksasa di kawasan Belik tak lagi mampu menahan beban alam. Dengan suara retakan kayu yang memekakkan telinga—suara yang digambarkan warga sekitar seperti ledakan kecil—pohon tersebut tumbang. Akarnya yang masif tercabut dari tanah yang gembur, menutupi seluruh badan jalan tanpa menyisakan ruang sedikit pun bagi kendaraan untuk melintas.
Saksi mata di lokasi kejadian menggambarkan betapa dramatisnya momen tersebut. “Hanya selisih beberapa detik setelah sebuah bus lewat, pohon itu ambruk. Jika terlambat sedikit saja, mungkin ceritanya akan sangat berbeda. Kami hanya bisa berucap syukur di tengah rasa takut yang luar biasa,” ungkap seorang pengendara motor yang berada tepat di belakang lokasi kejadian.
Kemacetan Horor: Dari Pasar Belik hingga Pasar Karangreja
Dampak dari tumbangnya pohon ini segera terasa. Dalam hitungan jam, kemacetan parah mulai mengular. Pohon Tumbang di Belik Pemalang menjadi perbincangan hangat di media sosial dan grup WhatsApp warga.
Kemacetan dilaporkan mencapai 3 kilometer dari kedua arah. Antrean kendaraan dari arah utara memanjang hingga mencapai Pasar Belik, sementara dari arah selatan (Purbalingga), kendaraan terjebak hingga ke kawasan Pasar Karangreja.
Kondisi di lapangan sangat emosional. Para sopir logistik yang membawa sayur-mayur dan barang mudah busuk hanya bisa merenung lesu di samping kendaraan mereka. Para pedagang yang seharusnya sudah sampai di pasar untuk mengais rezeki, terpaksa gigit jari melihat dagangannya tertahan di tengah jalan. Suasana penuh ketidakpastian menyelimuti ribuan orang yang terjebak dalam dinginnya udara pegunungan.
Analisis Cuaca: Tiga Hari Angin Kencang Tanpa Henti
Bencana ini tidak terjadi secara tiba-tiba. BMKG sebelumnya memang telah mengeluarkan peringatan dini terkait cuaca ekstrem di wilayah Jawa Tengah. Namun, durasi angin kencang yang berlangsung selama tiga hari berturut-turut adalah fenomena yang jarang terjadi dengan intensitas sedahsyat ini.
Kombinasi antara angin kencang yang melemahkan struktur dahan pohon dan hujan deras yang melunakkan fondasi tanah di sekitar perakaran adalah penyebab utama. Pohon-pohon tua di sepanjang jalur Belik-Karangreja memang menjadi ancaman laten di tengah perubahan iklim yang semakin sulit diprediksi.
Tentang Sabar dan Kemanusiaan di Tengah Jalan
Di tengah kemacetan yang melelahkan, terselip kisah-kisah kemanusiaan yang menyentuh hati. Warga sekitar dengan sigap keluar dari rumah mereka, membawa payung dan memberikan air minum atau sekadar informasi kepada para pengendara yang terjebak.
Ada rasa persaudaraan yang muncul saat bencana melanda. Orang-orang yang tadinya saling asing, kini berbagi keluh kesah yang sama di bawah guyuran hujan. Namun, tak dapat dipungkiri, rasa lelah dan stres juga memuncak. Suara klakson yang sesekali menyalak menunjukkan betapa tipisnya kesabaran manusia saat berhadapan dengan hambatan yang tak terduga.
Kita diingatkan kembali betapa rapuhnya rencana manusia di hadapan kekuasaan Tuhan dan alam. Sebuah perjalanan yang seharusnya ditempuh dalam waktu singkat, berubah menjadi ujian kesabaran berjam-jam.
Imbauan dan Kewaspadaan: Alam Sedang Memberi Peringatan
Kami menghimbau kepada seluruh masyarakat, khususnya pengguna jalan yang kerap melintasi jalur Pemalang-Purbalingga, untuk meningkatkan kewaspadaan berkali-kali lipat. Kejadian pohon tumbang di Belik ini adalah pengingat keras bagi kita semua.
Hindari Perjalanan Saat Cuaca Ekstrem: Jika tidak ada urusan yang sangat mendesak, tunda perjalanan Anda jika angin kencang dan hujan lebat sedang berlangsung.
Perhatikan Titik Rawan: Jalur antara Pasar Belik hingga Karangreja adalah jalur yang rimbun dengan pohon besar dan tebing. Selalu waspada terhadap pergerakan tanah atau dahan yang terlihat rapuh.
Patuhi Petugas: Jika terjadi kemacetan atau pengalihan arus, ikuti instruksi dari pihak kepolisian dan relawan di lapangan. Jangan mencoba menerobos jalur yang sedang dalam proses evakuasi.
Kepada pemerintah daerah terkait, diharapkan ada tindakan preventif berupa pemangkasan dahan pohon yang sudah terlalu rimbun atau penebangan pohon yang sudah mati/tua di sepanjang jalur utama ini. Jangan tunggu sampai jatuh korban jiwa baru tindakan nyata diambil.
Harapan untuk Pemulihan Jalur Nadi
Hingga berita ini disusun, tim gabungan dari BPBD Pemalang, pihak kepolisian, dan warga masih berusaha memotong batang pohon raksasa tersebut menggunakan gergaji mesin. Proses ini memakan waktu cukup lama mengingat diameter pohon yang sangat besar dan kondisi cuaca yang masih hujan.
Mari kita doakan agar para petugas di lapangan diberikan kekuatan dan keselamatan. Semoga jalur Pemalang-Purbalingga segera normal kembali, dan para pengendara dapat kembali ke pelukan keluarga dengan selamat.
Ingat, keselamatan adalah prioritas utama. Alam tidak bisa kita lawan, tapi risiko bisa kita hindari dengan kewaspadaan.